-
4 September, 2025
-
Comment
IPK Jelek karena Organisasi? Refleksi Setahun Setelah Wisuda.
Berawal dari jilat ludah sendiri~~
Setahun lalu gue berdiri di “panggung” wisuda, resmi menutup perjalanan S1 di Universitas Padjadjaran sekaligus program double degree di University of Northampton, Inggris. Momen itu jadi pengingat buat gue tentang perjalanan yang nggak selalu mulus, tapi penuh pelajaran.
Waktu pertama kali masuk kampus, gue sempet janji ke diri sendiri buat nggak ikut organisasi lagi. Tapi akhirnya, mungkin karena panggilan hati, gue justru terjun lagi. Dari staf magang sampai dipercaya jadi pelayan mahasiswa di FEB Unpad, gue ngerasain semangat buat terus bermanfaat. Klise mungkin, tapi itu yang gue rasain.
Terus masalahnya apa?
Masalahnya, nilai akademik gue sempat turun. Semester 4, IPK cuma 3,1. Dulu gue sering dengar omongan kalau IPK nggak terlalu penting di dunia kerja, jadi gue agak terpengaruh. Tapi setelah jalanin sendiri, gue sadar IPK itu tetap penting. Buat gue, IPK bukan sekadar angka, tapi cerminan tanggung jawab kita dalam menyerap ilmu.
Saat itu gue sering berlindung di balik alasan “sibuk organisasi”. Setelah dipikir lagi, itu bukan soal organisasinya, tapi mindset gue sendiri yang salah. Padahal gue punya kemampuan untuk menyeimbangkan keduanya. Di semester 5, sambil tetap menjabat di BEM, gue mulai memperbaiki cara belajar. Hasilnya, IPK naik sedikitlah ~~ jadi 3,3.
Visions
Setelah itu, gue ikut program double degree di University of Northampton, Inggris. Di sana semangat belajar makin tinggi, karena gue sadar banyak hal yang sebenernya bisa gue gali sejak di Indonesia. Alhamdulillah, gue berhasil dapat predikat First Class Honours (predikat akademik tertinggi di Inggris). Setelah SKS ditransfer ke Unpad, IPK naik jadi 3,57 (Cumlaude).
Buat gue, inti perjalanan ini bukan tentang angka atau gelar. Tapi tentang jatuh, bangkit, dan belajar bertanggung jawab atas pilihan sendiri. Wisuda kemarin jadi milestone penting, tapi yang lebih berharga adalah perjalanan untuk sampai ke sana.
Karena itu, gue kurang setuju dengan narasi bahwa IPK nggak terlalu penting dan cukup aktif di organisasi saja, seakan-akan jalurnya hanya menuju organisasi terus masuk politik atau partai. Buat gue, keduanya sama-sama penting. Organisasi membentuk karakter dan kepemimpinan, tapi akademik tetap jadi cerminan tanggung jawab kita menuntut ilmu. Tantangan sesungguhnya ada pada bagaimana kita bisa menyeimbangkan keduanya. Nanti kita bahas lebih lanjut.
Inti daripada Inti?
Terima kasih untuk keluarga, tenaga pendidik, jajaran staf Universitas, dan teman yang selalu mendukung. Perjalanan masih panjang, tapi refleksi ini mengingatkan gue untuk terus menjadikan ilmu sebagai kontribusi nyata bagi masyarakat.
END.
