-
10 September, 2025
-
Comment
7 Minutes Read
Economics: One For All (?)
Pernah nggak lo sadar kalau dari detik lo melek sampai merem lagi, lo itu sebenarnya lagi berenang di lautan ekonomi? Coba kita zoom in ke satu momen simpel: sarapan. Nyokap lo pesen nasi uduk lewat Gojek. Kelihatannya sepele, tapi itu bukan cuma transaksi, itu adalah sebuah flow ekonomi yang hidup. Si abang nasi uduk dapet profit, driver Gojek dapet komisi, dan lo dapet “Kepuasan” atau kalau di ilmu ekonomi disebut utilitas. Semua pihak yang terlibat langsung merasakan dampaknya.
Keputusan nyokap lo milih nasi uduk juga bukan asal-asalan. Tanpa sadar, dia lagi ngejalanin prinsip ekonomi dasar: optimalisasi utilitas (utility optimization). Dari opsi ketoprak atau rendang, otaknya secara kilat mengkalkulasi mana yang ngasih kepuasan paling gede dengan “biaya” (harga & waktu) paling pas.
Sekarang, coba kita tarik kamera lebih jauh lagi. Di balik transaksi tadi, ada perusahaan platform raksasa, Gojek. Dari jutaan transaksi seperti nasi uduk lo, mereka mengambil potongan kecil yang terakumulasi menjadi pendapatan yang besar. Uang yang terkumpul inilah yang kemudian mengalir untuk membayar gaji ribuan engineer, biaya server, budget marketing, hingga akhirnya membayar pajak ke negara. Dan dari pajak itulah, negara punya dana untuk bayar gaji PNS, membangun jalan, atau memberi subsidi. Nah, aliran raksasa yang melibatkan Rumah Tangga (lo dan driver), Perusahaan (penjual nasi uduk & Gojek), dan Pemerintah (lewat pajak) inilah yang di buku teks disebut Circular Flow Diagram ekonomi. Semuanya berawal dari satu piring nasi uduk.

1.1 Gambar Circulaw Flow Diagram Ekonomi
(drawed by: Author & Dina Namora A.)
Lanjut, lo berangkat ke sekolah naik motor. Motor itu bukan cuma kendaraan, itu adalah aset modal (capital asset) yang dibeli lewat keputusan ekonomi, pembeliannya dulu juga merupakan sebuah pilihan rasional yang mengorbankan pilihan lain (misalnya, uangnya bisa dipakai untuk renovasi rumah atau liburan) atau biasa disebut Opportunity Cost. Sekarang, guru/dosen yang ngajar lo di kelas? Gajinya adalah kompensasi atas modal manusia (human capital) yang dia punya, yaitu ilmu dan skill mengajarnya. Jajan di kantin, bayar ongkos pulang, semua itu adalah bagian dari sistem yang sama. Jadi, kalau ada yang bilang ekonomi itu pelajaran buat orang pinter di gedung tinggi, mereka salah besar. Ekonomi itu sistem operasi kehidupan kita. Lo nggak bisa log out, lo cuma bisa pilih mau jadi pemain yang cerdas atau sekadar jadi penonton. (gamungkin juga si lo jadi penonton doang… yakali…)
Ekonomi Modern, Awalnya darimana?
Jadi, “ilmu ekonomi” modern yang kita kenal sekarang ini lahir dari mana? Apakah diciptakan oleh para raja atau politikus? Justru sebaliknya.
Sebelum abad ke-18, cara pandang soal kekayaan itu kuno. Kerajaan-kerajaan percaya pada Merkantilisme: negara dianggap kaya kalau punya banyak tumpukan emas. Ekonomi dilihat seperti kue ulang tahun yang ukurannya tetap, jadi tuh gue kalau mau dapat potongan lebih besar, harus merebut potongan lo, ini tuh biasa disebut zero-sum game (simpelnya: ada pribadi yang untung dan ada pribadi yang merugi dengan jumlah yang IMPAS).
Lalu pada tahun 1776, seorang filsuf Skotlandia bernama Adam Smith datang dan membalikkan meja.
Lewat mahakaryanya, The Wealth of Nations, Smith melempar sebuah ide revolusioner: kekayaan sejati sebuah bangsa bukanlah pada emasnya, tapi produktivitas rakyatnya. Kekayaan itu bukan kue yang buat 1 orang aja, tapi sebuah “pabrik kue” yang bisa terus berproduksi lebih banyak lagi.
Dan siapa yang menjalankan pabrik (agent) itu? Bukan raja atau pemerintah, tapi individu-individu yang mengejar kepentingannya masing-masing. Inilah keajaiban dari “Tangan Tak Terlihat” (Invisible Hand): saat si penjual nasi uduk berusaha mencari untung dan si driver Gojek mencari nafkah, mereka tanpa disadari menciptakan layanan yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat.
Gagasan inilah yang menjelaskan bahwa kemakmuran diciptakan dari bawah ke atas oleh jutaan keputusan individu, bukan dari atas ke bawah oleh segelintir penguasa yang menjadi fondasi ilmu ekonomi modern.
Menari dengan Takdir Keterbatasan
Dari semua sejarah tadi, sebenarnya ada satu benang merah yang nggak pernah putus: ekonomi pada intinya ditopang oleh dua pilar kembar, yaitu Kelangkaan dan Pilihan. Kelangkaan adalah takdir kita: waktu, uang, dan energi kita semua terbatas. Dan karena takdir itulah, kita sebagai manusia dipaksa untuk terus-menerus memilih.
Ilmu ekonomi, pada dasarnya, adalah studi tentang bagaimana kita bergulat dengan keterbatasan itu lewat seni memilih. Setiap pilihan yang kita ambil selalu melahirkan ‘beban’ dari jalan yang tidak kita ambil, itulah yang disebut opportunity cost. Dan ketika miliaran pilihan individu ini bertemu di pasar, lahirlah sebuah hukum yang kita kenal sebagai Hukum Permintaan dan Penawaran. Semua teori besar ini sebenarnya tercermin dalam keputusan sederhana nyokap lo saat memilih nasi uduk: beliau bergulat dengan kelangkaan (budget sarapan), menimbang opportunity cost (tidak jadi makan rendang), dan merespons sinyal permintaan-penawaran (harga dan ketersediaan di aplikasi Gojek). Jadi, pada dasarnya, ekonomi bukanlah sekadar ilmu tentang uang. Ia adalah ilmu tentang bagaimana kita, sebagai manusia, menari dengan takdir keterbatasan melalui seni memilih
Ekonomi di Antara Politik, Hukum, dan Sosiologi
Ekonomi membahas begitu banyak aspek kehidupan: mulai dari pasar uang, kemiskinan, ekosistem, bahkan sampai kebahagiaan manusia. Jika ditelusuri lebih dalam, ekonomi tidak hanya soal angka dan grafik, tetapi juga pertanyaan mendasar: mengapa kita bekerja, apa yang kita hasilkan, apa yang kita keluarkan, bagaimana kita menggunakan sumber daya di sekitar kita, hingga bagaimana kita berinteraksi dengan negara lain. Dengan kata lain, ekonomi menyentuh hampir seluruh dimensi kehidupan kita.
Lalu muncul pertanyaan: apakah ekonomi lebih penting dibanding keilmuan lain? gua ambil contoh 3 disiplin ilmu ini: politik, hukum, atau sosiologi. Menurut gua, tidak ada yang lebih penting daripada yang lain. Politik tanpa hukum tidak dapat berjalan untuk menciptakan regulasi. Sosiologi tanpa politik terasa mustahil, karena politik butuh interaksi sosial dan negosiasi. Lalu, hukum tanpa politik dan sosiologi? akan hanya menjadi sederet pasal bisu di atas kertas, tanpa kekuatan fisik dan jiwa untuk dipatuhi. Namun, jika ketiganya dijalankan tanpa ekonomi, daya tawarnya akan lemah dan hampa. Justru dari keempat disiplin tersebut, ekonomi menjadi ilmu yang paling bisa kita kendalikan dalam kehidupan sehari-hari: mulai dari cara mengatur diri, membangun status sosial, hingga menciptakan daya tawar yang nantinya dapat membuka ruang untuk berpartisipasi dalam politik dan, pada akhirnya, berkontribusi pada regulasi hukum.
Jika dianalogikan dengan tubuh manusia, ekonomi bisa disamakan dengan darah yang mengalir ke seluruh organ. Tanpanya, tubuh memang tak akan berfungsi, tetapi darah itu sendiri tidak akan berarti tanpa otak yang mengatur arah (politik), tanpa tangan dan kaki yang bergerak (hukum), dan tanpa sistem saraf yang menggerakan dan memberi makna pada interaksi antarbagian (sosiologi). Keempatnya tidak bisa dipisahkan, masing-masing memiliki peran vital yang saling menopang. Bersama-sama, mereka membentuk organisme sosial yang bernapas, berpikir, bertindak, dan hidup.
Penutup
Perjalanan kita dalam tulisan ini dimulai dari satu piring nasi uduk, dan berakhir pada satu kesadaran: kita semua adalah pemain dalam sebuah permainan ekonomi yang tak terhindarkan.
Kita memang tidak memulai dari garis start yang sama. Ada yang sudah di depan, ada yang jauh di belakang. Tapi kita semua berlari di lintasan yang sama, yang diatur oleh hukum kelangkaan dan pilihan. Memahami ekonomi bukanlah soal menyamakan posisi semua orang, tapi tentang menjadi pelari yang paling cerdas di lintasan yang kita punya.
Narasi “Economics: One for All” ini bukanlah ajakan untuk menjadi egois dan melupakan sekitar. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk menjadi strategis dan sadar diri.
Karena pada akhirnya, fondasi paling kokoh untuk bisa memberi dampak pada dunia luar bukanlah harapan yang kita titipkan pada pihak lain, melainkan kekuatan nyata yang lahir dari kemandirian yang kita bangun sendiri, brick by brick. Perubahan mungkin bisa dimulai dari menuntut, tapi lebih besar lagi jika kita sendiri memiliki daya tawar, dan daya tawar itu-lah yang kita harus perjuangkan.
END.
Referensi
Referensi Utama (Main Reference)
- The Bank of England. 2023. Can’t we just print more money?: economics in ten simple questions. London: Cornerstone Press.
Referensi Pendukung (Supporting References)
- Acemoglu, D. & Robinson, J.A. 2012. Why nations fail: the origins of power, prosperity, and poverty. New York: Crown Publishers. .
- Ariely, D. 2008. Predictably irrational: the hidden forces that shape our decisions. New York: Harper Collins.
- Friedman, M. 1962. Capitalism and freedom. Chicago: University of Chicago Press.
- Harari, Y.N. 2014. Sapiens: a brief history of humankind. London: Harvill Secker.
- Heilbroner, R.L. 2011. The worldly philosophers: the lives, times, and ideas of the great economic thinkers. 7th edn. New York: Simon & Schuster.
- Hijdra, B.J. 2018. Pengantar Ekonomi Makro.
- Kahneman, D. 2011. Thinking, fast and slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.
- Mankiw, N.G. 2021. Principles of economics. 9th edn. Boston, MA: Cengage Learning.
- Smith, A. 1776. An inquiry into the nature and causes of the wealth of nations. London: W. Strahan and T. Cadell.
- Wheelan, C. 2010. Naked economics: undressing the dismal science. New York: W.W. Norton & Co.
